Dampak Perang Antara Rusia Ukraina Terhadap Perekonomian Indonesia

Latar Belakang Perang antara Rusia dengan Ukraina

REACTION | Dampak Perang Rusia Ukraina Terhadap Perekonomian Indonesia – Dikutip dari Global Conflict Tracker (GCT), konflik antara Rusia dengan Ukraina telah dimulai sejak tahun 2014. Saat itu, di Ukraina terjadi kejadian protes massal di ibu kota Keiv dengan maksud untuk menggulingkan kekuasaan Viktor Janukovich, sang presiden Ukraina yang pro dengan Rusia. Presiden Janukovich menolak untuk menandatangani perjanjian asosiasi antara Ukraina dengan Uni Eropa atas tekanan dari pimpinan Uni Soviet yaitu Rusia. Penolakan itu memicu amarah warganya yang sebelumnya sudah bergembira akan masuk menjadi bagian Uni Eropa. Terlebih saat itu juga banyak tuduhan berita miring korupsi yang dilakukan oleh para pejabat pemerintahan termasuk Viktor Janukovich.

Atas kejadian tersebut, Rusia turut marah dan akhirnya membalas dengan mengirimkan pasukan ke Semenanjung Krimea. Setelah berhasil menguasai wilayah Krimea, Rusia mengobarkan pemberontakan separatis ke wilayah kawasan Ukraina Timur yang mayoritas warganya fasih berbahasa Rusia (dikenal sebagai wilayah Donbas) dengan mengirim persenjataan kepada kubu separatis. Gerakan separatis ini melakukan deklarasi kemerdekaan dari negara Ukraina.

Kemudian di tahun 2016, NATO yang merupakan musuh dari militer Rusia mengumumkan bahwa aliansinya akan mengerahkan empat batalyon ke Eropa Timur seperti Polandia, Lithuania, Latvia, dan Estonia. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah agresi Rusia di wilayah Eropa Timur, mengingat saat itu Rusia telah berhasil menguasai kawasan Ukraina Timur yang dekat dengan ke empat negara tersebut.

Beberapa tahun kemudian tepatnya di tahun 2018. Ukraina yang saat itu dipimpin oleh presiden yang pro dengan Uni Eropa menyetujui untuk bergabung dengan NATO untuk melakukan latihan udara skala besar di bulan Oktober 2018. Pelatihan tersebut dilakukan di wilayah Ukraina Barat yang berlangsung selama satu bulan setelah Rusia mengadakan latihan militer tahunan.
Akhirnya, puncak dari beberapa konflik tersebut terjadi di tahun ini tepatnya pada tanggal 21 Februari 2022. Kala itu, Putin yang merupakan presiden Rusia mengumumkan pengakuannya atas kemerdekaan milisi Donbas yaitu Republik Rakyat Donetsk (DPR) dan Republik Rakyat Luhansk (LPR) yang sedari dari tahun 2014 ingin mendeklarasikan kemerdekaan dari Ukraina akibat serangan separatis Rusia.

Kemudian persis di tanggal 24 Februari 2022, Putin secara tiba-tiba dan mendadak mengumumkan “operasi militer” dengan melakukan serangan ke sejumlah kota di negara Ukraina. Hal ini marak disebut sebagai bentuk invasi Rusia ke Ukraina.

Alasan Rusia melakukan penyerangan kepada Ukraina karena pemimpin terkini negara tetangganya tersebut yaitu Volodymyr Zelenskyy lebih dekat ke Barat dan ingin menjadi bagian Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO.

Lantas, apa saja dampak yang dirasakan oleh perekonomian Indonesia atas terjadinya perang Rusia-Ukraina? Berikut ini Penjelasannya.

Dampak Perang Antara Rusia Dengan Ukraina Terhadap Perekonomian Indonesia Di Saat Ini

Beberapa dampak ikut serta dirasakan oleh bangsa kita Indonesia dari adanya perang Rusia-Ukraina tersebut, utamanya yaitu di bidang perekonomian yang meliputi:

Dampak Terhadap Harga Minyak dan BBM

Fakta menyebutkan bahwa Rusia adalah negara penghasil minyak bumi terbesar kedua di dunia. Akibat peperangan yang terjadi antara Rusia dan Ukraina, Amerika memutuskan untuk melakukan embargo ekonomi kepada Rusia. Akibatnya, pasokan minyak mentah di dunia akan berkurang. BBM yang merupakan turunan dari minyak mentah tentu saja akan berkurang juga persediaannya. Padahal dari tahun ke tahun kebutuhan akan minyak dan BBM terus meningkat.

Di sinilah hukum permintaan dan penawaran berlaku. Ketika permintaan masyarakat akan minyak dan BBM meningkat sedangkan penawaran kedua barang tersebut berkurang, tentu saja hal itu akan menyebabkan kenaikan harga minyak dan BBM. Indonesia selaku negara yang masih mengimpor minyak tentu akan merasakan dampak dari peristiwa ini.

Dampak Terhadap Nilai Tukar Rupiah

Perang Rusia-Ukraina juga berdampak pada kondisi moneter di Indonesia saat ini dan kedepannya jika konflik tersebut belum terselesaikan. Nilai tukar rupiah saat ini hampir mendekati level Rp15.000,00. Hal ini dikarenakan nilai tukar rupiah mengalami fluktuasi tinggi akibat tekanan efek penguatan dolar AS. Selain itu, Hal tersebut disebabkan karena menurunnya volume perdagangan dan meningginya harga-harga komoditi perdagangan yang akhirnya mendorong meningkatnya inflasi global. Jika hal tersebut terus terjadi akan menimbulkan ketidakstabilan moneter terutama dalam memulihkan perekonomian di Indonesia.

Indeks Harga Saham Gabungan Indonesia | GEJOLAK IHSG

Konflik Rusia dan Ukraina yang akhir-akhir ini kian memanas tak menutup kemungkinan bahwa hal ini juga memiliki dampak atau pengaruh bagi perkembangan IHSG di Indonesia, berikut disajikan sederet dampak yang terjadi pada IHSG :

  1. Akibat konflik antara Rusia dan Ukraina, IHSG atau Indeks Harga Saham gabungan Bursa Efek Indonesia (BEI) melemah turun seiring dengan anjloknya bursa saham regional dan global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat turun sebesar -1,48% dari 102,24 poin ke level 6.817,82. Mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat bahwa terjadi penurunan harga. Tercatat sebanyak 492 emiten mengalami penurunan harga saham dan hanya 109 emiten yang mengalami kenaikan harga. Penurunan ini merupakan dampak jangka pendek atau bersifat sementara (temporer)
  2. Membuat perilaku berhati-hati di pasar dan investor melakukan pengamanan asetnya dengan menjual aset keuangan seperti saham dan mencari instrumen yang cukup aman yaitu instrumen safe heaven.
  3. Terjadi panic selling di pasar saham yang diakibatkan karena perilaku kehati-hatian yang membuat investor melakukan penjualan asetnya.
  4. Berbanding terbalik, saham-saham di sektor perminyakan terjadi penguatan. Ini disebabkan karena terganggunya supply dan demand dari minyak mentah itu sendiri, yang mana Rusia merupakan pemasok minyak mentah terbesar dunia, dan ketika terjadi gangguan maka akan menghambat pasokan minyak mentah dunia.

Dampak Terhadap Ekspor dan Impor Indonesia

Terakhir, konflik antara rusia dan ukraina yang timbul sejak awal tahun 2022 dikhawatirkan akan berdampak pada perekonomian dunia, tak terkecuali Indonesia. Indonesia sendiri merupakan bagian dari komunitas ekonomi global digadang akan terkena imbasnya terutama di bidang ekspor dan impor. Pada bidang ekspor terdapat komoditas CPO (Crude Palm Oil) dan turunannya, seperti karet, barang barang elektronik, kopi, dan lain sebagainya yang berasal dari Indonesia. CPO dan barang sejenisnya merupakan produk yang diperjualbelikan di kedua negara Rusia dan Ukraina. Selain itu, sediaan impor tepung gandum yang dimiliki Indonesia berasal dari Ukraina dicemaskan juga ikut terganggu.

Imbas lainnya yang terlihat cukup memberatkan negara Indonesia adalah meningkatnya biaya energi, yakni minyak dan gas secara global, pada kasus ini Rusia berperan sebagai pengekspor 10% dari total minyak dunia. Tentu semakin meningkatnya biaya ini menekan Indonesia dalam hal fiskal karena semakin naiknya beban subsidi bahan bakar. Kenaikan harga minyak mentah sebesar USD 1 per barel berpengaruh pada kenaikan subsidi serta restitusi listrik sebanyak Rp.925 miliar. Tentu saja kondisi ini akan berdampak dengan semakin meningkatnya biaya transportasi serta industri yang mengkonsumsi bahan bakar non-subsidi yang membuat biaya produk lainnya meningkat.

Kesimpulan

Rusia melancarkan penyerangan kepada Ukraina. Penyerangan ini dilakukan karena pemimpin negara tetangganya yaitu Volodymyr Zelenskyy lebih dekat kepada blok Barat bahkan menjadi bagian daru Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO. Dengan adanya ketegangan antara Rusia dan Ukraina ini maka berdampak kepada negara-negara lain termasuk Indonesia. Dampak perang Rusia dan ukraina ini terjadi di beberapa sektor perekonomian Indonesia. Sektor perekonomian Indonesia yang terpengaruh antara lain yaitu harga minyak dan BBM yang akan naik karena Rusia adalah negara penghasil minyak bumi terbesar kedua di dunia tetapi diberlakukan embargo ekonomi oleh Amerika. Kemudian, nilai tukar rupiah yang mengalami fluktuasi tinggi karena akibat tekanan efek penguatan dolar AS dan menurunnya volume perdagangan serta meningginya harga-harga komoditi perdagangan yang menyebabkan meningkatnya inflasi global. Selain itu, terdapat gejolak IHSG, karena adanya konflik ini menyebabkan Indeks Harga Gabungan Bursa Efek Indonesia melemah turun akibat anjloknya bursa saham regional dan global. Serta kegiatan ekspor dan impor, disebabkan karena adanya ekspor dan impor ini maka pada bidang ekspor komoditas CPO dan impor tepung gandum akan dicemaskan terganggu.

SUMBER REFERENSI:

  • https://www.kelaspintar.id/blog/inspirasi/latar-belakang-konflik-rusia-dan-ukraina-15296/
  • https://radarpapua.jawapos.com/news/berita-utama/21/03/2022/dampak-perang-rusia-ukraina-ekonom-harga-bbm-berpotensi-naik/
  • https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20220328085659-78-776841/rupiah-loyo-ke-rp14352-akibat-konflik-rusia-ukraina
  • https://stocksetup.kontan.co.id/news/ihsg-merosot-akibat-konflik-rusia-ukraina-bagaimana-investor-sebaiknya-bersikap
  • https://www.beritasatu.com/ekonomi/903373/ini-dampak-perang-rusiaukraina-terhadap-eksporimpor-indonesia
Bagikan Artikel :

Leave a Reply