KTT G20 Di Tengah Pemulihan Ekonomi Nasional. Apa Kabar Kondisi Perekonomian Indonesia? Profit atau Defisit?

Pandemi covid-19 membawa dampak buruk, contohnya pertumbuhan ekonomi Indonesia negatif menurut data Badan Pusat Statistik. Dari kondisi perekonomian Indonesia yang buruk tersebut, pemerintah terus berupaya untuk mengatasinya melalui berbagai program. Program Pemulihan Ekonomi Nasional merupakan salah satu upaya pemerintah yang terus didorong dengan lebih antisipatif, responsif, dan produktif dalam mengatasi masalah pertumbuhan nasional. Alhasil, dengan adanya program tersebut menjadikan perekonomian Indonesia membaik dan dapat kembali menjadi negara berpendapatan menengah ke atas. Masuknya Indonesia ke kategori negara berpendapatan menengah ke atas karena Indonesia masuk ke dalam urutan ke 16 PDB tertinggi di dunia. Sehingga Indonesia direkrut ke dalam forum bergengsi dunia yaitu G20.

G20 atau Group of Twenty merupakan forum untuk kerja sama dengan lebih dari dua bangsa yang terdiri dari 19 negara utama dan lembaga uni Eropa. Forum tersebut bergerak di bidang ekonomi dan pembangunan sebagai simbol dari sekitar 80 persen perekonomian dunia. Pada tahun 2022, Indonesia terpilih menjadi penyelenggara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 dengan mengusung tema “Recover Together, Recover Stronger”. Pembahasan dalam KTT G20 meliputi Financial Track untuk membahas masalah keuangan dan Sherpa Track yang membahas isu-isu ekonomi non-keuangan.

Terselenggaranya KTT G20 di Indonesia membawa dampak di berbagai sektor khususnya sektor ekonomi. Lalu apakah penyelenggaraan KTT G20 di Indonesia akan berpengaruh positif atau negatif bagi perekonomian Indonesia? Berikut penjelasannya:

Pembahasan Dalam KTT G20

1. Finance Track

Tema yang diusung oleh Indonesia dalam G20 kali ini ternyata berkaitan erat dengan finance track. Mengapa demikian? Karena “Recover Together, Recover Stronger” ditujukan untuk meningkatkan ekonomi global yang lebih produktif dan seimbang di era modern. Adapun tujuan lainnya yaitu diharapkan dapat menguatkan stabilitas sistem keuangan dan moneter serta mampu meningkatkan kesetaraan dan kesinambungan yang lebih luas.

Finance track sendiri dapat diartikan sebagai jalur yang dikhususkan untuk membahas isu-isu mengenai perekonomian dan keuangan. Lalu, isu apa saja yang dibahas kali ini? Finance track kali ini berfokus pada perekonomian global, kebijakan fiskal dan moneter, investasi infrastruktur, sektor keuangan, inklusi keuangan, serta perpajakan internasional. Namun, untuk mendorong pemulihan ekonomi yang lebih kuat, terdapat lima isu yang harus diprioritaskan. Lima isu tersebut meliputi exit policy untuk pemulihan ekonomi global pasca pandemi, cara mengatasi dampak berkepanjangan krisis, sistem pembayaran di era digital, keuangan berkelanjutan, inklusi keuangan dan sistem perpajakan internasional. Kelima isu tersebut dilatarbelakangi oleh rentannya perekonomian global dengan tingkat inflasi yang tinggi dan pemulihan yang lebih lemah. Berdasarkan pembahasan finance track tersebut, diharapkan dapat menghasilkan nilai inti dari negara anggota G20 agar menjadi pemimpin kolektif global yang lebih kuat dan tentunya mengedepankan digitalisasi.

2. Sherpa Track

Sherpa track atau jalur sherpa merupakan jalur khusus yang dibuat untuk membahas isu-isu di luar bidang keuangan. Kata sherpa diambil dari Bahasa Tibet, yang artinya suku yang tinggal di pegunungan Himalaya yang berprofesi sebagai pemandu arah dan pembawa barang. Namun, dalam KTT G20, kata sherpa diartikan sebagai pembuka jalan menuju KTT G20. Buktinya terdapat pertemuan sebelum pelaksanaan KTT G20 yang khusus membahas sherpa track agar dapat membawa hasil yang memuaskan dan mampu diimplementasikan oleh negara-negara anggota dalam setiap strategi dan kebijakan yang akan dibuat.

Pembahasan isu dalam sherpa track dapat dikatakan jauh lebih luas dan mendalam dibandingkan dengan finance track. Lalu, isu-isu apa saja yang dibahas dalam konferensi ini? Isu-isu yang dibahas meliputi pariwisata, anti korupsi, pembangunan, perdagangan, energi, perubahan iklim, kesetaraan gender, kesehatan dan masih banyak lagi. Dalam KTT G20 ini, negara-negara anggota juga saling mendiskusikan dan bekerja sama dalam penanganan pandemi. Selain itu, Indonesia pun mengangkat sebuah isu mengenai skill pekerja yang harus ditingkatkan melalui edukasi vokasional guna mempercepat pemulihan ekonomi negara pasca adanya pandemi Covid-19.

Kontribusi KTT G20

1. Kontribusi Pada UMKM

KTT G20 telah membangkitkan peran UMKM di Indonesia dalam mendukung pemulihan ekonomi pasca pandemi COVID-19. Teten Masduki, Menteri Koperasi dan UKM juga menuturkan bahwa KTT G20 ini mampu mendorong investasi pada UMKM dalam negeri. Hal ini disebabkan karena hingga saat ini 80% investor global berasal dari negara-negara G20.

Indonesia memanfaatkan momentum KTT G20 ini untuk menampilkan beragam hasil karya terbaik dari UMKM. Dari seluruh rangkaian kegiatan baik main event maupun side event, UMKM selalu terlibat di dalamnya. Diadakannya KTT G20 ini telah menciptakan sekitar 700 ribu lapangan kerja baru dan menyerap tenaga kerja hingga mencapai 33 ribu pekerja dengan nilai konsumsi mencapai Rp1,7 triliun baik dari sektor transportasi, akomodasi, MICE dan UMKM. Tidak hanya itu, dampak langsung KTT G20 ini juga telah dirasakan oleh pengusaha dan UMKM di Bali, seperti kenaikan kunjungan baik dari wisatawan lokal maupun mancanegara sampai dengan kebanjiran pesanan yang menyebabkan angka penjualan mereka naik pesat.

Berkat adanya KTT G20 di Indonesia, peluang emas sangatlah terbuka bagi UMKM Indonesia untuk bisa unjuk gigi serta mempromosikan diri supaya bisa lebih dikenal dan akhirnya bisa menembus pasar global. Kurasi produk unggulan UMKM juga telah dilakukan Kementerian Koperasi dan UKM melalui promosi di sejumlah side event G20. Ajang promosi ini diharapkan dapat mendorong kehadiran UMKM sebagai kekuatan utama ekonomi Indonesia. Momentum Presidensi G20 ini sangat berdampak positif dalam pemulihan aktivitas perekonomian Indonesia dan menjadi saksi bangkitnya pelaku UMKM Indonesia.

2. Kontribusi Pada Sektor Pariwisata

Selain memberikan kontribusi pada UMKM, KTT G20 di Indonesia juga membantu pemulihan sektor pariwisata nasional, khususnya bagi Bali yang terpilih sebagai destinasi penyelenggaraan pertemuan puncak acara KTT G20. Acara ini telah memberikan dampak yang besar kepada masyarakat Indonesia khususnya dalam penguatan ekonomi pasca pandemi.

Hingga saat ini, Indonesia sudah mencatatkan peningkatan positif dalam  kunjungan wisatawan asing. Hanya dalam beberapa bulan, kunjungan wisatawan asing sudah menyentuh angka 1,8 sampai 3,6 juta orang. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno mengatakan bahwa KTT G20 ini akan menambah cadangan devisa dari sektor wisata sebesar 100 sampai 150 juta US dollar atau setara dengan Rp2,3 triliun.

KTT G20 juga membawa berkah bagi sektor perhotelan, hal ini dikarenakan tingkat okupansi hotel naik menjadi sekitar 50%. Bahkan, tingkat okupansi hotel di wilayah Nusa Dua dipastikan melesat hingga 100% atau mengalami full booked selama perhelatan G20. Tidak hanya hotel yang penuh, berbagai objek-objek wisata juga ramai dikarenakan banyaknya para delegasi yang melakukan kunjungan. Promosi gratis terhadap pariwisata Indonesia juga diperoleh berkat G20, dikarenakan seluruh media di dunia meliput dan menyiarkan tentang keindahan Bali. Hal tersebut sangatlah membantu dalam pemulihan sektor pariwisata dan membuat pertumbuhan pariwisata Indonesia menjadi lebih baik.

3. Kontribusi Pada PDB Nasional

Banyak sektor mendapatkan dampak dari terselenggaranya G20, khususnya sektor UMKM dan pariwisata. Dalam pelaksanaan acara inti maupun acara sampingan G20 telah menyerap tenaga kerja seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Salah satu upaya mendorong perekonomian Indonesia yaitu dengan melibatkan UMKM dalam setiap acara G20. Di Bali sendiri yang menjadi tempat berbagai acara dan inti acara dilaksanakan telah merasakan dampak didirikannya G20 seperti pada September terdapat 15 kali ministerial meeting yang dilihat dari trafiknya meningkat lebih dari 70% dari sebelumnya untuk transportasi. 

Kontribusi langsung dengan adanya KTT G20 pada Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai US$ 533 juta atau dalam rupiah sekitar Rp7,4 triliun. Angka tersebut diperoleh dari diselenggarakannya rangkaian acara sejak 1 Desember 2021. Acara yang diselenggarakan di 25 kota dalam rangka G20 terdiri dari 438 event dengan berbagai level pertemuan. Rangkaian acara tersebut memberikan manfaat besar terutama dalam upaya mendorong perekonomian Indonesia.

Kesimpulan

KTT G20 pada tahun ini membawakan topik-topik yang menarik seputar pemulihan ekonomi pasca pandemi dan tentang perencanaan sektor keuangan dan ekonomi untuk jangka panjang nantinya. Acara ini juga membawa berbagai dampak positif bagi masyarakat Indonesia berupa penyerapan tenaga kerja yang tinggi, peningkatan investasi di sektor UMKM, dan juga peningkatan pendapatan di sektor pariwisata. Harapan untuk kedepannya, acara KTT G20 ini mampu untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan ekonomi yang ada agar dapat membantu Indonesia dalam memajukan pembangunan sumber daya manusia dan pelestarian budaya.

 

Sumber Referensi:

Bagikan Artikel :

Leave a Reply