Ancaman Resesi 2023, Begini Cara Menghadapinya Dari Sekarang!

Baru-baru ini marak diberitakan terjadinya resesi ekonomi global di tahun 2023. Pada tahun 2023, perekonomian global diperkirakan menurun hingga 1,9% menjadi 0,5% oleh Bank Dunia. Hal inilah yang menjadi dasar mengapa tahun 2023 diproyeksikan akan terjadi resesi ekonomi global. 

Pandemi Covid-19 dan terjadinya konflik antara Rusia dan Ukraina yang belum kunjung selesai hingga sekarang dinilai menjadi penyebab dari munculnya isu resesi ekonomi yang akan terjadi di tahun 2023. Lemahnya daya beli masyarakat yang disebabkan oleh menurunnya pendapatan masyarakat selama pandemi telah mengakibatkan masalah yang cukup serius bagi perekonomian global. Hal ini karena tingkat daya beli masyarakat berkaitan dengan tingkat inflasi dan deflasi yang terjadi di semua negara. Sementara itu, konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina membawa dampak terjadinya disrupsi rantai pasokan global sehingga fenomena inflasi pangan dan energi tidak dapat dihindarkan. Inflasi pangan dan energi ini tentunya menyebabkan berbagai negara kian terhimpit di tengah kondisi pemulihan pasca pandemi Covid-19. 

Beberapa negara telah resmi mengumumkan mengalami kebangkrutan dan risiko krisis yang besar akibat dari inflasi global yang terjadi. Contohnya ada negara Lebanon, Sri Lanka, Argentina, Tunisia, Ghana, Mesir dan Kenya. Bahkan, di tahun ini, rasio hutang Mesir membengkak hingga mencapai 95% dari PDB yang diperkirakan harus dibayar dalam bentuk hard currency senilai US$100 miliar dalam kurun waktu 5 tahun ke depan, termasuk US$3,3 miliar dalam bentuk obligasi di tahun 2024.

Lantas, bagaimanakah dengan nasib Indonesia jika resesi ekonomi 2023 benar-benar terjadi?

Apakah Indonesia Terdampak Resesi Ekonomi 2023?

Indonesia diperkirakan menjadi salah satu dari sedikit negara yang dinilai akan kuat menghadapi resesi global yang diisukan terjadi di tahun 2023. Dalam keterangannya, Sri Mulyani, Menteri Keuangan RI, menjelaskan bahwa perekonomian Indonesia masih cukup sehat dan aman dari ancaman resesi global 2023. Hal tersebut diperkuat dengan fakta yang menyatakan bahwa per kuartal I 2022, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,01%. Selain itu, tingkat inflasi Indonesia juga dinilai masih terkendali pada level 4,35% pada bulan Juni 2022 kemarin. 

Namun, bukan berarti kondisi Indonesia akan aman-aman saja. Indonesia harus siap dihadapkan dengan risiko perlambatan ekonomi yang sudah pasti sangat tinggi di tahun depan. Hal ini terbukti dari pernyataan IMF (International Monetary Fund) yang memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5,2% menjadi 5% pada tahun 2023. Dimana perlambatan ini bisa diproyeksikan lebih dalam lagi. 

Jika resesi terjadi maka harga komoditas berisiko menurun. Belum lagi, melihat terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang semakin memperparah risiko meningkatkan laju inflasi di dalam negeri. Rupiah sepanjang tahun ini mengalami kemerosotan hingga lebih dari 9 persen terhadap dolar AS menjadi Rp 15.698 per 10 November 2022. Dengan melemahnya nilai rupiah ini, tentu akan menyebabkan pembengkakan pada anggaran belanja pemerintah dan memungkinkan terjadinya kenaikan harga beberapa barang, seperti tahu dan tempe. Sebab, kedua barang pokok tersebut berbahan baku kedelai yang merupakan salah satu komoditas impor. 

Jika rupiah terus merosot atau melemah, inflasi akan meningkat kembali, hal ini tentu akan mendorong Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga sehingga berdampak pada pertumbuhan kredit berisiko yang semakin melambat. Kondisi ini akan berdampak pada penurunan pertumbuhan ekonomi nasional.

Lalu, bagaimana cara kita mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terjadinya resesi ekonomi 2023?

1. Mulai Mempelajari Hal Baru 

Dalam menghadapi resesi global yang diisukan terjadi pada tahun 2023, tentunya kita harus siap beradaptasi dalam kondisi apapun. Karena sudah bukan hal asing jika suatu perusahaan akan memberhentikan karyawan demi mempertahankan stabilitas keuangannya. Jika hal ini terjadi, masyarakat perlu mengasah kembali kemampuan yang mereka miliki dan juga menambah hal hal baru yang bisa membuat value diri mereka meningkat. Pepatah bijak pernah berkata, “semakin banyak kamu belajar semakin banyak kamu menghasilkan”. Keahlian baru juga bisa menjadi pondasi kita dalam bersaing dalam kondisi yang sulit. Walau terpaksa, hal itu harus kita lakukan untuk mengembangkan diri dalam menghadapi resesi pada tahun 2023. Ditambah lagi Negara pasti membutuhkan kemampuan generasi muda untuk menggerakkan roda perekonomian.

Banyak hal yang bisa kita mulai lakukan dari sekarang untuk mempersiapkan diri pada resesi global 2023. Mulai dari membiasakan kebiasaan positif, seperti bangun pagi, berolahraga, merutinkan membaca buku, belajar bahasa baru, dan lain sebagainya. Hingga melatih hardskill yang belum kita kuasai seperti, programming, accounting, design, marketing skills, problem solving skills, dll. Hanya butuh sedikit paksaan dalam diri kita untuk bisa belajar hal baru dan menguasainya. Kerasnya dunia hanya bisa dilalui oleh orang yang bisa beradaptasi. 

2. Belajar Berinvestasi 

Masih banyak orang yang tabu dengan investasi. Sebenarnya apa sih investasi itu? Dan mengapa kita harus berinvestasi? Menurut KBBI, berinvestasi adalah bertanam modal. Secara umum, berinvestasi adalah suatu kegiatan penanaman modal di suatu benda, lembaga, atau pihak pada suatu periode dengan harapan mendapatkan keuntungan berupa nilai aset yang lebih tinggi dibandingkan modal yang ditanam. Lantas, mengapa kita harus belajar berinvestasi guna menghadapi resesi global 2023? Jika tidak ada resesi pun kita dianjurkan untuk berinvestasi karena dengan investasi kita dapat melindungi nilai aset yang kita miliki dari inflasi yang mengakibatkan turunnya daya beli uang yang kita miliki terhadap suatu barang. Maka semakin cepat kita belajar berinvestasi, semakin cepat juga kita menjaga nilai aset yang kita miliki. Dengan berinvestasi juga kita bisa meminimalisir hal yang tidak diinginkan di masa yang akan datang.

Terdapat banyak pilihan investasi yang bisa kita lakukan, ada yang jangka pendek maupun jangka panjang. Beberapa jenis investasi yang sering kita dengar yaitu, saham, obligasi, reksadana, deposito. Dimana setiap masing-masing instrumen memiliki tingkat risiko dan keuntungan yang berbeda beda. Semakin besar risikonya maka keuntungannya semakin besar juga, begitu pun sebaliknya. Akan tetapi, risiko ini bisa kita minimalisir dengan perencanaan dan pemahaman yang mumpuni. Dalam pengaplikasiannya, terdapat poin-poin yang harus kita pelajari dahulu sebelum memulai investasi. Jangan sampai kita ceroboh dalam menggunakannya karena taruhannya adalah harta kita sendiri.  

3. Membuat Dana Darurat

Memiliki dana darurat merupakan bagian yang penting dalam sebuah penyusunan rencana keuangan karena terkadang terdapat keadaan di luar kontrol yang terjadi di hidup kita. Oleh karena itu, penting untuk memiliki dana darurat di segala kondisi untuk mengatasi masalah-masalah mendesak seperti resesi 2023 dengan uang yang sudah disiapkan sebelumnya.

Dana darurat dapat disimpan di rekening tabungan untuk memudahkan penarikan sewaktu-waktu dibutuhkan. Namun, ini bisa dibilang sebagai metode yang kurang optimal karena nilai dananya tetap stagnan, bahkan akan terus berkurang imbas dari inflasi. Daripada menyimpan dana darurat di rekening bank, ada opsi yang lebih ideal yang bisa dipertimbangkan, yaitu berinvestasi. Berinvestasi memberi kita kesempatan untuk mendapatkan keuntungan jangka panjang. Untuk dana darurat idealnya pilih instrumen investasi yang berisiko rendah, seperti deposito atau reksa dana pasar uang.

Tahap awal untuk membuat rencana penyusunan dana darurat adalah hitung nominal dana yang perlu dikumpulkan dengan menyesuaikan pengeluaran bulanan. Bagi mahasiswa yang masih berstatus lajang dan hanya perlu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, idealnya dana darurat berjumlah 3 – 6 kali pengeluaran bulanan. Selanjutnya, tentukan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bisa mencapai target keuangan tersebut berdasarkan kondisi keuangan kamu. Hal ini mampu membantumu dalam merencanakan dan mengelola keuangan dengan lebih jelas untuk menyiapkan dana darurat kamu.

Kemudian, cobalah untuk memasukkan dana darurat dan uang untuk kebutuhan pokok ke dalam rekening keuangan yang berbeda. Salah satu alasannya adalah agar uang yang telah terkumpul sebagai dana darurat tidak  digunakan untuk memenuhi kebutuhan lain yang tak semestinya. Lalu, yang tidak kalah penting adalah untuk konsisten dan disiplin dalam menyisihkan penghasilan agar dana darurat dapat terkumpul tepat waktu sesuai target. Terakhir, pastikan untuk memilih wadah menyimpan dana darurat yang mudah diakses dan proses pencairannya mudah. 

4. Meminimalisir Pengeluaran Yang Tidak Penting

Mengingat kemungkinan resesi pada tahun 2023 mendatang, sebaiknya berbagai kebiasaan konsumtif contohnya yang bersifat hiburan, seperti belanja, menonton konser, atau berlangganan layanan streaming perlu dihentikan atau ditunda sementara waktu. Dengan membatasi pengeluaran, kita bisa mengalokasikan budget untuk hal-hal yang sifatnya lebih penting, seperti keperluan sehari-hari yang diperkirakan juga akan mengalami kenaikan harga selama resesi.

Namun, selama berbelanja ditujukan untuk membeli suatu produk atau jasa yang kita butuhkan, maka lakukanlah. Sebaliknya, jika hanya ditujukan untuk memuaskan keinginan kita, pikir dua kali dan lakukan perhitungan terlebih dahulu. Menurut data dari BPS, kontribusi konsumsi masyarakat terhadap PDB tahunan juga masih berada di level minus 4,04%. Ketika konsumsi lemah, maka penghasilan di berbagai sektor ekonomi juga akan mengalami penurunan. Oleh karena itu, menunda konsumsi bukanlah langkah yang bijak. Namun, konsumsi yang berlebihan tentunya juga bisa membahayakan kondisi keuangan kita.

Kesimpulan

Saat ini marak diberitakan ancaman terjadinya resesi ekonomi global di tahun 2023. Pada tahun 2023, perekonomian global diperkirakan akan menurun dari 1,9% menjadi 0,5% oleh Bank Dunia. Hal ini menjadi dasar mengapa tahun 2023 diproyeksikan akan terjadi resesi ekonomi global. Indonesia diperkirakan menjadi salah satu dari sedikit negara yang dinilai akan kuat menghadapi resesi global yang diisukan terjadi di tahun 2023. Adapun dalam menghadapi ancaman resesi ekonomi global tersebut, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan sebagai langkah persiapan dari sekarang dalam menghadapi ancaman resesi di tahun 2023. Beberapa cara tersebut, seperti mempelajari hal baru untuk menambah ilmu, belajar berinvestasi, menyiapkan dana  darurat, dan menghemat pengeluaran yang tidak penting.

 

Sumber Referensi

Bagikan Artikel :

Leave a Reply